Diperiksa Sebagai Saksi Kasus Hakim PN Medan, Keluarga Jefri Sesalkan Penyidik Polretabes Arogan


Keluarga JP Nasution salah seorang saksi yang diperiksa oleh pihak penyidik unit pidana umum (Pidum) Polrestabes Medan terkait kasus tewasnya Hakim PN Medan, Jamaluddin beberapa waktu lalu, merasa kecewa.

Pasalnya, Ef Nasution ibu kandung saksi, bahwa JP, diduga mendapat perlakuan kurang menyenangkan oleh pihak penyidik saat diminta hadir pada hari, Jumat (03/01/2020) pukul 18.30 WIB, sebagai saksi untuk keperluan penyelidikan.

“Sebagai orang tua, saya merasa kecewa terhadap oknum penyidik yang menjalankan pemeriksaan terhadap anak saya JP Nasution. Karena, saya menduga, anak saya JP, mendapat perlakuan kurang menyenangkan saat dilakukan proses penyelidikan,” ucap Ef ibu kandung JP kepada wartawan, Minggu (5/1/2020) sore di Mapolrestabes Medan.

Disebutkan Ef ibu kandung JP, perlakuan tidak menyenangkan pihak penyidik terhadap saksi, bahwa keluarga menduga, kalau anaknya telah diperlakukan kasar dengan menganiaya JP Nasution.

“Waktu anak saya pergi keluar rumah memenuhi panggilan sebagai saksi, kondisi anak saya terlihat sehat bugar. Tapi setelah saya datang ke Polrestabes Medan ini, wajah anak saya dibagian pipi kiri dan kanannya terlihat seperti menerima pukulan karena bagian pipi nya agak membengkak,” ujar Ef kesal sembari menceritakan, pemanggilan anaknya JP memenuhi panggilan penyidik hanya berdasarkan melalui panggilan telepon.

“Pemeriksaan terhadap JP anak saya sebagai saksi adalah yang ketiga kalinya oleh penyidik Polrestabes Medan. Namun, yang saya lihat kondisi Jefri tadinya baik, sekarang wajahnya dibagian kiri dan kanan memar memerah.

Menurut Jefri, dia mendapat perlakuan arogan oleh penyidik dan hingga sampai saat ini, Jefri masih ditahan di Mapolrestabes Medan. Begitu juga satu unit ponsel, satu buah dompet dan satu unit mobil calya BK 1757 HE disita penyidik,” ucap Ef Nasution.

Diungkapkan Ef ibu kandung JP yang datang ke Polrestabes Medan bersama pihak keluarganya yang lain mengaku, kedatangan mereka tidak ada maksud yang lain untuk menghalangi penanganan kasus hukum yang ada, hanya saja dalam melakukan pemeriksaan saksi harus dilindungi bukan diperlakukan kasar.

“Kalau membuat keterangan palsu boleh dihukum seberat – beratnya. Ini sebagai saksi untuk memberikan keterangan tambahan bukan diperlakukan dengan tidak manusiawi mengakibatkan wajah anak saya memar,” tambah Ef.

Dengan melihat kondisi anaknya JP, Ef ibu kandung saksi ini melihat, oknum penyidik Unit Pidum tidak profesional untuk mengambil keterangan saksi JP.

“Anak saya itu tau hukum, jangan dipaksakan untuk mengaku adanya keterlibatan dengan kasus hukum Hakim PN Medan itu,” jelasnya sembari mengakui kalau anaknya JP hanya sebatas kenal dengan almarhum, Jamaluddin.

Sementara, Kasat Reskrim Polrestabes Medan AKBP Maringan Simanjuntak yang dikonfirmasi wartawan terkait dugaan adanya tindak kekerasan terhadap saksi JP oleh pihak keluarga dibantah.

“Kami tidak ada melakukan tindakan kekerasan terhadap saksi dalam proses pemeriksaan yang didugakan keluarga saksi. Itu tidak benar. Kalaupun hingga saat ini saksi belum dipulangkan, itu karena saksi saat dimintai keterangan memperlambat memberikan keterangan dan berbelit-belit. Jadi sekali lagi, kondisi saksi hingga saat ini, sehat dan tidak ada diberlakukan kasar apa lagi sampai dianiaya,” pungkas AKBP Maringan Simanjuntak kepada wartawan dalam keterangan saat ditemui di Hotel Grand Aston dalam sebuah acara pisah sambut Kapolrestabes Medan.

Next Post

Konflik di Perairan Natuna, Presiden: Prioritaskan Diplomatik Damai

Mon Jan 6 , 2020
Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memberikan arahan dalam menangani konflik di Perairan Natunal, yakni telah terjadi pelanggaran batas wilayah dalam Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia oleh kapal China yang memasuki wilayah tersebut. “Berdasarkan arahan Presiden @jokowi pemerintah Indonesia bersikap tegas sekaligus memprioritaskan usaha diplomatik damai dalam menangani konflik di perairan […]

Category