NGOPI, Bupati Batubara Pakaikan Songket Melayu Pada Kakanwil Kemenag Sumut


Empat Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten/ Kota, Kemenag Kota Tebing Tinggi, Kemenag Kabupaten Batu Bara, Kemenag Kabupaten Asahan dan Kemenag Kota Tanjung Balai menggelar kegiatan NGOPI (Ngobrol Pendidikan Islam) yang dilaksanakan di Pendopo Zahir, Kabupaten Batubara, pertengahan pekan ini.

NGOPI, dilansir dari Sumut.kemenag.go.id, Sabtu (21/12/2019), menghadirkan keynote speaker, Bupati Batubara Ir H Zahir MAP bertema “Menangkal Paham Radikalisme dalam Menjaga Kebersamaan Umat dengan Moderasi Beragama.

Hadir dalam acara ini Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara, Kakankemenag Kota Tebing Tinggi, Kakankemenag Kabupaten Asahan, Kakankemenag Kota Tanjung Balai, Kakankemenag Kabupaten Batu Bara, Kabag Ops Polres Batu Bara, Kapolsek Lima Puluh, Kabid Penmad Kanwil Kemenag Sumut dan beberapa unsur pejabat struktural lainnya dari Kanwil kemenag Sumut maupun dari empat Kemenag kabupaten kota, tamu dan undangan.

Seluruh peserta kegiatan Ngopi mengenakan busana Melayu Deli, begitu juga dengan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara, H Iwan Zulhami SH MAP, beserta Ketua DWP Kanwil Kemenag Sumut Ny Hj Susilawati Iwan Zulhami. Kedua tamu dipakaikan kain songket Melayu sebagai tanda tamu penghormatan.

Kakanwil dipakaikan songket melayunya langsung oleh Bupati Batu Bara, sedangkan Ketua DWP Kanwil Kemenag Sumut dipakaikan kain songketnya oleh keempat Ketua DWP Kemenag kabupaten kota.

Kakankemenag Asahan, Dr H Hayatsyah MPd mengatakan, kepada Humas Kankemenag Asahan Srie bahwa dengan memakai busana melayu saat melaksanakan kegiatan ngopi berarti kita sudah melestarikan budaya Melayu Deli yang tidak akan punah jika kita selalu memperkenalkannya di setiap event.

“Tampak kegiatan ngopi ini begitu hidup dan serasa kental adat melayu, karena berbagai warna dan bentuk busana Melayu dipakai peserta NGOPI. Kelihatan sangat menarik busana Melayu tersebut, tatkala ada kain sampingnya yakni songket melayu dan tutup kepala yang disebut songkok, atau lacak, sebutan di Melayu Jambi,” ujarnya.

Dijelaskannya, ASN Kementerian Agama Provsu sudah menggunakan busana Melayu di satu hari kerja. “Baik itu di Kanwil Kemenag maupun di Kemenag Kabupaten Kota. Seperti di Kemenag Asahan, telah wajib menggunakan baju khas Melayu Deli berwarna kuning emas saat hari Jumat. Sehingga tanpa kita sadari kita sudah menjadi masyarakat Indonesia pelestari budaya adat Melayu,” pungkasnya.

Next Post

Penerimaan Mahasiswa Baru 2020, Unimed Sediakan 7000 Kuota Mahasiswa Baru

Sun Dec 22 , 2019
Pada penerimaan mahasiswa baru tahun 2020, Universitas Negeri Medan (Unimed) telah menentukan kuota yakni 7000 mahasiswa baru dengan rincian 1400 orang dari jalur SNMPTN, 3500 orang dari jalur SBMPTN dan 2100 orang dari jalur MANDIRI. Hal ini disampaikan oleh Rektor Unimed Dr Syamsul Gultom SKM MKes saat pembukaan acara Sosialisasi […]

Category